Sabtu, 01 Desember 2018

BEDA ITU KEREN

Sebagian besar masa kecilku dihabiskan di kota kecil yang terkenal karena pabrik rokok kreteknya, sehingga disebut sebagai kota kretek, Kudus. Perpindahan kami ke kota ini karena tugas papah di proyek baru, karyawan kontraktor kan memang sering pindah-pindah (karyawan loh ya, bukan kontraktornya ๐Ÿ˜). Proyek apa itu, aku sendiri lupa, hanya saja tempatnya dekat dengan rumah kontrakan kami. Desa tempat kami tinggal ada di kecamatan Bae, yang aku ingat adalah dari jalan raya besar, menuju desa kami ada gapura semacam penanda, di sepanjang jalan kanan kirinya dipenuhi kebun tebu. Selain pabrik rokok, memang ada pabrik gula disana. Pabrik rokok yang terdekat dengan kampung kalo ngga salah pabrik rokok Nojorono, entah merek itu masih ada atau sudah hilang saat ini. Oh ya, baru ingat, nama desa tempat tinggal kami adalah Purworejo ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป.
Untuk menuju kota, kami harus berjalan kaki dari perkampungan melewati kebun-kebun tebu, untuk kemudian menunggu angkutan desa yang lewat. Tapi papah dulu sering memboncengku menggunakan sepeda mini, hanya untuk membeli sate atau beli kolek pisang di kota. Kalau diingat-ingat, jarak rumah dengan jalan besar pasti sangat jauh, tapi dulu sepertinya kami senang saja. Hidup jauh lebih sederhana pada saat itu ☺. Pernah suatu waktu, aku pergi menjemput mamah yang sedang les menjahit ke jalan besar dengan naik sepeda. Di jalanan menurun, tanpa sadar aku menarik rem depan terlalu kencang sehingga sepedapun terjungkal, dan dahiku sukses mencium mur di stang sepeda. Kejadian itu meninggalkan bekas sampai sekarang dan menyebabkan syaraf mataku mengalami gangguan. Kami tinggal di rumah kontrakan, yang hanya terdiri dari dua petak ruangan. Semua aktifitas dilakukan disitu. Kalau mau ke kamar mandi, kami harus keluar rumah dan menggunakan kamar mandi komunal bersama dengan pemilik kontrakan. Mamah terkadang menerima jahitan baju. Masakannya juga sangat enak, sejauh yang kuingat, meskipun dengan uang belanja yang sangat minim. Meskipun kehidupan kami sangat sederhana, tapi entahlah, saat itu rasanya sangat membahagiakan.
Masa TK, memasuki SD, aku merasa sama seperti anak-anak lain. Main pasar-pasaran, membuat minyak kelapa dari daun mangkokan, petak umpet, kadang meminta sisa tebu dari kebun yang selesai panen. Tak jarang main di tepi sungai yang menurutku tempat yang agak creepy karena letaknya berdekatan dengan tempat pemakaman umum. Satu-satunya hiburan, pernah waktu itu diputar layar tancap di lokasi proyek, filmnya sudah pasti film Indonesia. Ada tradisi 'dandangan' (inipun kalau ngga salah sebut), semacam pasar malam setelah lebaran. Ini lebih ramai dibanding lebaran itu sendiri, dan pada momen seperti inilah anak-anak merasa sah saja meminta ini dan itu, mainan masak-masakan, boneka dan yang wajib, harum  manis. Ini sungguh langka waktu itu.
Layaknya anak pada umumnya, kadang akupun sering bertengkar dengan teman pada saat bermain. Hal yang paling kubenci pada saat itu adalah ketika kami berselisih, mereka sering mengolok-olok aku dengan kata "cino, cino, wong cino"...
Sungguh aku tak terlalu paham artinya pada saat itu, hanya saja itu terasa seperti sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku hanya mempunyai sedikit gambaran, apa arti olokan mereka, bahwa aku adalah anak orang etnis cina, hal yang langka, bahkan satu-satunya di desa itu. Toh aku tak pernah merasa berbeda dengan anak lainnya, warna kulit, bentuk mata, hampir semuanya sama. Yang aku tahu memang mamah punya warna kulit yang lebih terang dibanding penduduk disana, hanya itu. Karenanya, meskipun tak tahu apa yang menyebabkan, hatiku sering merasa sakit ketika diolok-olok seperti itu.
Memasuki pertengahan SD, papah kembali pindah proyek di Jakarta, sehingga kami sekeluarga pindah ke kota asli papah di Sukabumi. Pada masa itu, aku tak pernah lagi mendengar olokan seperti dulu lagi, sehingga aku nyaris melupakannya. Semakin bertambah umur akupun akhirnya menyadari bahwa ternyata mamah memang keturunan etnis tionghoa, bahkan kakak tertuanya masih ada yang tinggal di RRC, tentu saja kami tak pernah bertemu. Nenek kakek dari pihak mamah sudah meninggal jauh sebelum aku lahir, sedangkan dengan saudara-saudara mamah yang lainpun nyaris tak pernah berhubungan. Mungkin kalau saat ini aku ketemu salah satu sepupu, kami tak mungkin saling kenal. Sayangnya, aku belum terlalu punya cukup kepedulian untuk mengenal lebih jauh silsilah keluarga mamah pada waktu itu, sampai saat mamah meninggal tahun 1992. Aku baru kelas 3 SMP. I miss her a lot.
Saat ini, kegiatan yang rutin aku lakukan adalah yoga. Gurunya fix keren, dan sepertinya latihan disana paling cocok buatku. Tak hanya gurunya, teman-teman latihanpun yang terbaik yang pernah kukenal. And guess what? Saat ini aku lagi-lagi menjadi "minoritas". 95% komunitas yogaku adalah etnis china, termasuk guruku. Kenapa minoritas? Karena aku sendiri (berempat sih) yang berjilbab. Serius, ini bukan tulisan yang berbau SARA, justru aku hanya ingin cerita perbedaan perlakuan yang aku alami. Kalau dulu aku minoritas karena "orang cina", sekarang aku yang minoritas karena "bukan orang cina". Sesungguhnya teman-temanku memang ngga pernah tahu aku juga sebagian cina. Satu hal yang membuat aku tak pernah merasa menjadi minoritas adalah karena perlakuan mereka yang tak pernah membedakan, bahkan sangat baik. Awalnya sempet juga sih ngerasa minder karena beda, tapi tak butuh waktu lama untuk berbaur. Sungguh salah ketika kita masih berpikir segmented, bahkan cenderung rasis. Sepanjang tidak mengganggu aqidah kita, bukankah kita juga diharuskan berbuat baik kepada non muslim?
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).
Ini adalah cerita masa kecilku yang tersimpan hampir selama 40 tahun. Kenapa baru kali ini kutulis, mungkin karena sekarang aku merasa sudah siap membuka kenangan masa kecilku. Sesungguhnya aku cenderung lebih senang tak memikirkan, karena dengan memikirkannya, aku juga harus mengingat banyak kehilangan, terutama keberadaan mamah. Dan ini adalah tulisan yang terinspirasi darinya, memperingati 26 tahun meninggalnya mamah (30 November 1992).
Aku senang, aku adalah aku, minoritas atau bukan.

Jumat, 29 Juni 2018

Tuhan sungguh Baik



Tuhan sungguh baik
Membiarkanku pernah merasakan berada di ketinggian 3.428 mdpl
Kemudian menghirup semilir aroma belerang, bercampur sejumput wangi edelweis 
Kali lain, Tuhan juga membuatku pernah bertahan di dinginnya tenda yang tertiup angin kencang, untuk kemudian menyaksikan kelompok gunung-gunung yang seakan berbaris
Bahkan kemarin, Tuhan memberiku kesempatan melawan ketakutan ketakmampuan bertahan di air, demi melihat keindahannya
Diantaranya, merebahkan diri di bawah hamparan bintang, mencicip sejuk air yang mengalir jernih, mengunyah pucuk pakis bercampur mungkin sedikit pasir, menyusuri jalan mendaki di tengah hujan...
Sungguh rindu yang mencekam Tuhan..
Rindu dialog bersama alam-Mu, dan mulai bosan hanya bercengkrama dengan layar mati
Namun bersama kebosanan itupun, hujan hari ini sungguh romantis
Tuhanku sungguh baik, betul kan?

Selasa, 26 Juni 2018

Intisari KOPI


Intisari KOPI

Menyeduh kopi itu harus dengan hati, karena pertemuan mesra air dan kopi... walau tanpa kata... selalu jujur menghadirkan percik-percik kebahagiaan di setiap teguknya... 
Pada pagi, memberi semangat menyambut semesta yang bersinar... 
Pada siang, mengistirahatkan sejenak dari penat... 
Pada malam, menghantarkan meredam seluruh riuh di kepala. Ngopi itu harus sering, seperti patah hati yang berkali-kali, supaya makin terasa serunya hidup di semesta ini.... 

Selasa, 26 April 2016

PROUD OF

Hari kerja terakhir minggu lalu, jadi hari paling seru yang pernah gue alami. Harus mengumumkan dua puluhan paket lelang salah satu dinas secara bersamaan nyaris membuat keadaan kantor menjadi chaos. Semua orang sibuk melakukan persiapan, membuat dokumen, cek ulang persyaratan dan perintilan lainnya. Teriakan dari satu kubikel ke kubikel lainnya saling mengkonfirmasi data, saling membantu, mem-back up, ataupun saling mengoreksi pekerjaan kami masing-masing. Adrenalin terasa memenuhi ruangan kerja kami hari itu, berlomba dengan waktu. Gosh... gue suka suasana waktu itu, hal yang belum pernah gue dapet sebelumnya.
Hari sebelumnya gue ngobrol sama mantan bos, sedikit bernostalgia tentang kantor kami dulu. Sebagai alumni, kami masih merasa terikat secara emosional, karena itu adalah tempat kami pertama bertumbuh (hahaha)... Dulu ada satu proses yang tidak kami lakukan, semacam missing link dari serangkaian prosedur yang seharusnya kami lakukan, dan itu membuat kami sedikit “hilang arah”. 
Disini, saat ini... ini salah satu tempat terbaik buat belajar, gue suka suasananya, ritme kerjanya, orang-orangnya (yang sedikit insane... ups). Yes, we are not perfect, but we’re try to be, and I’m proud of being one of its.

Kamis, 18 Februari 2016

KEPO


Kemarin, mendapat curhatan hati seorang sahabat tentang suaminya, well… itu memang urusan rumah tanga mereka, tapi mungkin karena kedekatan kami, dia mau curcol, dia ternyata tipe yang suka intip-intip hape suaminya, it’s a little bit embarrassing, karena karena ternyata istilah kepo bahkan kemal, sebagian temen gue ternyata mengalami hal sama, entah sebagai pelaku, entah sebagai korban, hehe… Ngintip hape pasangan masing-masing yang kadang berujung pada pertengkaran karena kesalahpahaman masing-masing. Yang terlihat bisa jadi ngga seperti yang dibayangkan, tapi disitu hebatnya hati manusia, bisa langsung berprasangka buruk dengan cuma baca satu atau dua baris tulisan.
Nah ceritanya si temen gue baru aja ngintip hape suaminya, dia liat percakapan antara suami dan temen kantornya. Ngga ada percakapan yang menjurus apapun, tapi diujung percakapan si suami kirim emoticon peluk kaya gini ({}) … Entah emang maksudnya meluk atau emang suaminya yang kurang pintar membaca emoticon J yang jelas si istri merasa jadi ngga mood ngadepin suaminya, mau dikonfrontir tapi malu, mau didiemin juga bikin hatinya rusuh. Aduh ini sebenernya over posesif atau emang udah ngga rasional sih temen gue? Sssssttt, tapi ya gue ngga bilang gitu juga sama temen gue itu, bisa-bisa gue dimusuhin, hehehe… Tapi ya emang agak keterlaluan juga sih yaa, masa gara-gara hal sepele kaya gitu jadi masalah. Tapi kalo tentang pasangan emang agak susah dirasionalisasi sepertinya. Temen gue malah ada yang hapenya tiap malem diaudit sama istrinya, what the …..??? sementar temen yang lain juga ada yang sibuk end chat setiap mau pulang ke rumah…hmmmm gini juga ngga ya kelakuan pasangan gue?
Jadi inget tentang tulisan gue jaman dulu waktu gue sempet nolak pake aplikasi “AA” dan sempet sebel kalo ditanya, punya pin “AA” ngga? Baca : http://shetamara.blogspot.co.id/2011/09/mass-consumption-no-way.html

Meskipun toh pada akhirnya gue harus menyerah untuk pasang aplikasi itu juga, karena tuntutan kebutuhan, ngga semua orang pake aplikasi yang gue pake. Buat situasi sekarang, dimana orang lebih histeris ngga punya kuota, abis batere atau ngga ada sinyal, ngga pake aplikasi kaya gitu jadi terlihat lebih menguntungkan, daripada jadinya mengganggu stabilitas ‘en-ka-er-I’ dan mesti deg-degan setiap mau pulang pulang, karena mikiran udah dihapusin belum yaa, obrolan di privat chat, atau di grup? Meskipun kadang emang ngga ada apa-apa, tapi tetep aja daripada ribut mending rajin-rajin end chat… Fiuuuhhhhhh…. Ribeeett. Katanya kunci menjaga hubungan adalah saling percaya, selalu berprasangka baik sama pasangan. Kalo ngga gitu, bisa mati kurus kita, mikirin hal yang belum tentu kejadian, jangan suka kepo ngintipin hape pasangan deh… (nasehat buat temen gue, sekaligus buat diri sendiri).

Selasa, 05 Januari 2016

Selamat Tahun Baru !!!


Selamat siaaang semuaaaa………..
Sepertinya dua tahun mungkin lebih gue ngga pernah nulis. Alasannya klasik, ngurus anaklah, banyak kerjaanlah deeste deeste… Punya anak dua tahunan itu emang sesuatu banget, mau pergi bentar kepikiran, mau buka laptop, direcokin juga. Giliran dianya dah bobo, guenya juga ngantuuuuk :’(
Tapi beneran nih, sekarang berasa udah tuaaa banget. Begitu ngaca di tempat yang terang, keliatan ada uban nyempil, lebih dari satu…. Omaigat omaigat…. #mukapanik Selama ini temen-temen gue udah dari lama beruban, meskipun umurnya lebih muda, sementara gue cuma ada selembar. Tapi sekarang banyak benget nih uban. Belum lama gue juga pernah sakit kaki, tangan di sendi-sendinya, ngga bisa digerakin, parah abis sakitnya. Banyak yang bilang kena asam urat, percaya aja sih gejalanya emang gitu. Sampai ngga bisa ngantor beberapa hari, sediiih banget. Tapi ternyata waktu periksa ke dokter spesialis tulang, dari hasil labnya, asam urat, kolestrol masih normal, cuma radang sendi aja katanya. Ya apapun lah yaa, tetep aja jadi syok.

Oya, dua tahun ini, banyak hal yang baru yang belum sempet ditulis. Gue dah dua kali pindah kantor, whats??!!!! Gue pikir sekali jadi auditor, apalagi udah punya sertifikat bakal selamalamalamanya diem disitu, ternyata akibat gue nikah  ke sesama penghuni gedung juga, terpaksa harus move on hahaha… Kantor kedua gue hhhmmmm…. Lumayan bikin stres, apalagi gue pindah pas lagi hamil 3 bulanan. Tapi di kantor baru itu juga gue banyak belajar, sebagian karena gue dianggap sedikit ‘lebih tau’ karena dulunya auditor. Sebagian karena banyak kesempatan dan kepercayaan yang dikasih ke gue sama bu bos. Temen-temen yang sebagian sangat suportif, abaikan orang-orang yang ngga termasuk dalam daftar favorit kita di phone book hehehe… Disana gue bisa lebih berkembang, mencoba hal baru, ketemu banyak orang baru, punya keberanian baru. Gue bersyukur, di kantor yang dulu ketemu senior-senior yang kegalakan, disiplinnya ada di level 8, hiks… Ternyata hasil didikan mereka jadi modal utama gue di kantor baru (makasih ibu yang sering bikin mules, bapak yang agak nyiyir hehe…).
Dua tahun lebih disana, gue udah pindah lagi ke kantor baru, kali ini pake acara drama-dramaan gitu. Rasanya agak berat ninggalin orang-orang yang gue tau memang kerja, yang selama ini sangat mendukung. Tapi gue pikir perubahan itu perlu, gue pengen nyoba hal baru lagi. Di kantor baru ini, pasti gue jadi anak bawang lagi, ngga terlalu dikasih banyak tanggungjawab. Seru disini, ngga ada birokrasi sesama anggota, dan kayanya syarat bisa ngerasa nyaman disini cuma satu, agak geser dikit otaknya huahaahahahah……………
Hal baru yang lain yaitu gue mulai belajar yoga setahun kebelakang. Ini berhubungan sama perubahan yang lain, yaitu perubahan bentuk badan yang melar dan menolak mengecil lagi hwuaaaaa… Dulu masih sanggup ikut aerobik-aerobikan atau fitness, tapi kayanya sekarang udah ngga sanggup lagi, jadi cari alternatif lain. Ketemu sama si yoga ini. Ternyata yoga itu ya butuh latihan ekstra keras juga kalau pengen progressnya bagus. Tapi lagi-lagi alasan punya krucil yang dijadiin alasan. Gimana ngga, orang baru mulai plank, latihan di rumah kaya yang lain, yang ada si krucil malah duduk manis diatasnya hahaha, harusnya sih bikin tambah kuat yaa. Di tempat yoga ini, ternyata ketemu sama temen-temen dari berbagai suku, ras dan agama. Tapi mereka semua keren banget, baik-baik ngga pernah memisahkan diri satu sama lain. Ketemu great teacher (meskipun awalnya ragu, cos beliaunya guru cowo)… This is the new experience.
Dan terakhir, tahun baruan di rumah sakit ternyata menghasilkan resolusi yang cukup keren buat gue : jangan berobat ke RS** kalo ngga kepepeeeettt banget. Ngga tau kenapa, beberapa kali rawat inap di rumah sakit itu, hilang satu penyakit, dateng penyakit lain, darah tinggi :D . Sebagai peenes yang setiap bulan gajinya dipotong buat askes, perlakuan dokter & perawat disana sama di rumah sakit Her*ina (katanya ngga boleh sebut merk), ibarat jarak Sukabumi – Bandung pas macet total. Padahal yang dipake bayar ya asuransi yang sama. Jadi RS** itu pilihan ke 105, pilihan pertama tetep sehat sentosa buat kita semua !!!  
So this is it. Ini semacam pemanasan buat (mudah-mudahan) cerita selanjutnya.
Selamat siang menjelang soree…..




Kamis, 12 Maret 2015

(Bingung)



 

Aku rindu
Rindu akan kehilangan yang dulu pernah ada
Rindu karena pilihan
Rindu mahligai tempatku terjaga
Rindu zirah emasku
Rindu karena belantara beronak

Tetapi bukankan aku hanya wayang
Bergerak hanya sesuai tangan si dalang
Tapi aku ini wayang golek
Dan bukan wayang kulit
Wayang yang mampu melihat
Mencium dan merasakan
Mendengar
Seluruh dimensi
Seringkali terjatuh, tersandung, tergores
Bahkan duripun sanggup melukai
Belenggu dari si dalang menghalangiku
Berontak, membalas bahkan sekedar berteriak
Aku benci
Titik...

Senin, 07 Juli 2014

Jumat, 28 Maret 2014

KISAH SATU

Membaca sebuah kisah di tabloid mengenai seorang bayi bernama Aqila yang menderita Atresia Bilier, membuka kembali ingatan tentang anak keduaku. Atresia Bilier adalah penyumbatan saluran empedu. Lahir melalui proses yang yang menurutku tidak mudah, karena sesungguhnya aku tidak menyiapkan diri untuk melakukan operasi caesar. Pada saat kontrol kehamilan dokter mengatakan posisi bayiku normal, sudah berada di posisi yang semestinya, bahkan tiga hari sebelum hari lahir. Memasuki minggu ke- 42 belum ada tanda-tanda aku akan segera melahirkan, lewat satu minggu dari perkiraan dokter. Waktu itu jumat sore aku dan suami kontrol untuk ke sekian kali, dan dipastikan posisi bayiku kembali bergeser, melintang dengan kaki dan ari-ari berada di jalan lahir. Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan operasi caesar sesegera mungkin karena telah lewat waktu perkiraan. Dengan membawa rujukan kepada seorang dokter senior di rumah sakit daerah (maklum PNS). Mendaftar pada sabtu pagi (dengan waktu tunggu yang lumayan lama, dan harus mondar-mandir dari satu loket ke loket lain, tipikal RSD L hikshiks...), akhirnya aku disiapkan untuk masuk ruang operasi jam 4 sore. Ternyata tidak memakan waktu lama untuk melakukan sebuah operasi mengeluarkan seorang bayi kecil dengan berat 2,8 kg dan panjang 52 cm J. Pemulihan dari anestesi justru yang membutuhkan lebih dari 3 jam, dengan perasaan melayang, hahahaha....
Pada minggu-minggu pertama, bayi kecilku tumbuh sehat dengan pertambahan berat badan yang lumayan pesat. Hanya satu hal yang mengganjal, tubuhnya berwarna kuning, termasuk kornea matanya. Menurut orang-orang, ini karena kurang asupan ASI dan dijemur. Semua nasehat kuikuti, tapi keadaan tidak berubah. Hal ini terus berlangsung sampai bayiku berumur satu bulan lebih. Diluar tubuhnya yang berwarna kuning, semuanya terlihat normal. BAB nya normal, berwarna kuning, berat badannya naik proporsional, menyusu dengan teratur. Aniway, karena kekuatiran kami, akhirnya kami membawanya untuk diperiksa. Dokter waktu itu belum bisa menentukan diagnosa yang pasti, sambil diberikan obat, kami diharuskan kontrol kembali sambil melakukan beberapa tes di laboratorium. Bayi sekecil itu harus ditusuk jarum untuk diambil darah Ltermasuk berpuasa semalaman karena harus rontgen hati.
 (ini daftar tes yang harus dijalani my little baby)

 
 
 (perjalanan jauh pertama dede)


Meskipun hasil tes laboratorium telah keluar, tapi dokter belum bisa mengambil kesimpulan. Ada beberapa kemungkinan, yang terberat adalah penyumbatan saluran empedu dan tindakan yang harus dilakukan adalah operasi. Astagfirullah haladzim... tidak terkatakan perasaan ini, ingin menamgis, tapi aku tahu aku harus kuat, demi bayiku, karena aku ngga mau karena perasaanku yang kacau berpengaruh ke produksi ASI-ku. Kamipun dirujuk ke Bandung, sebuah rumah sakit swasta internasional, menemui dokter yang ahli di bidang penyakit ‘hepar’. Dengan perasaan yang bercampur aduk, kami memutuskan langsung ke Bandung, membawa seluruh tabungan kami sebagai bekal. Sebelumnya kami telah melakukan konfirmasi kepada pihak rumah sakit mengenai apakah dokter yang kami tuju ada. sampai di rumah sakit, mendaftar (gak pake lama), kami menunggu jam buka praktek. Tetapi beberapa menit sebelum waktu praktek, perawat memberi tahu bahwa ternyata dokter berhalangan, karena ada acara mendadak. Kamipun protes, karena kami sudah membuat perjanjian sebelumnya, mengingat kami dari luar kota. Perawat jaga berkali-kali minta maaf dan menekankan bahwa itu memang mendadak, karena sampai waktu terakhir, dokter masih menyatakan akan praktek (fiiuhhhhh, beda banget sama pelayanan di rumah sakit negeri). Kami sempat linglung, menentukan langkah apa yang mesti diambil, pulang lagi ke Sukabumi, atau nginep di Bandung, karena besok dokternya ada jadwal praktek di rumah sakit itu, meskipun perawat juga tidak bisa memastikan kehadiran dokter. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kamipun memutuskan bermalam di Bandung di rumah salah satu keluarga. Keesokan hari, sampai jam sembilan pagi, kami belum menerima kabar dari pihak rumah sakit. Akhirnya karena penasaran, aku googling tentang dokter ini. Ternyata Dr Ina Rosalina, SpA (K) adalah seorang Konsulen Spesialis Anak Sub Spesialis Gastro di beberapa rumah sakit di Bandung, dokter ahli di bidang saluran pencernaan anak (gastroenterologi) terkenal di Indonesia. Wah aku pikir perjuangan mencari dokter ini akan sulit, meskipun dokter ini praktek di beberapa rumah sakit di Bandung. Akhirnya kabar dari rumah sakit mengkonfirmasi bahwa dokter Ina tidak akan praktek karena akan ada seminar di Jakarta. Kamipun kelimpungan. Aku cari dimana lagi dokter Ina praktek hari sabtu itu, ketemu di satu rumah sakit swasta lagi. Setelah menunggu beberapa kali menunggu extension, akhirnya dapat informasi kalau beliau ada praktek. Karena kurang yakin, aku sampai beberapa kali nanya, “Bener nih mba, dokternya ada?”. “Iya bu, ini juga lagi ada di ruangan.” Okay kami bergegas berkemas menuju te-ka-pe, suamiku malah gak pake mandi lagi, maklum Bandung akhir minggu pasti macet. Finnally, menunggu di depan praktek dr. Ina, lega level pertama.
Melihat hasil tes darah dan rontgen hati dari rumah sakit di Sukabumi, dr. Ina sebetulnya bisa mengambil kesimpulan, kalau anakku ngga papa, cuma karena ASI aja katanya, tapi solusinyapun tetep dikasih ASI sebanyak-banyaknya. Fiiiuuuuhhhhh..... Buat menyakin, harus dilakukan tes darah sekali lagi L... Karena hari itu sudah siang, makanya ngga mungkin hasilnya bisa langsung diperiksa dikter, apalagi beliau mesti ke Jakarta menghadiri seminar. Akhirnya kami dianjurkan menelpon dokter hari selasa malam, karena dia tau kami dari luar kota, untuk mengetahui hasil pemeriksaan (she gave us a name card !!!!). Aku sampe melongo, gak papa nih dokter? Honestly, baru kali ini, gue ketemu dokter kaya gini, cantik, pinter, terkenal, ramah, baiiiiikkkkk....... banget, mau dihubungi lewat telpon. Padahal ongkos periksannya aja murah, hehehe...resep yang dikasih juga cuma vitamin. Lega level kedua.Setelah ambil darah di lab, kami langsung pulang ke Sukabumi.
Selasa malam, dengan perasaan galau aku menghubungi dokter. Dokternya santai aja, “Ngga papa kok bu, kasih aja ASI sebanyak-banyaknya, nanti juga kuningnya ilang, bulan depan cek lagi kesini”. Ceeesssss....seperti disiram air dingin, kami semua merasa lega dengan hasilnya. Lega level tiga.
Ternyata memang hari-hari berikutnya, kuning pada tubuh anakku terlihat berkurang, matanyapun mulai jernih. Pada saat kami check up lagi, anakku sudah terlihat seperti bayi sehat lainnya dan dokterpun bilang semuanya baik-baik saja. Alhamdulillah hirobbil alamiin.... Lega level sepuluh J


(bersambung.....)

Selasa, 25 Februari 2014

satu pengingat dari sang KAHLIL GIBRAN


Anakmu bukan milikmu

Mereka adalah putra putri sang hidup, yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka lahir lewat engkau tetapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu

Berilah mereka kasih sayang, namun jangan beri pemikiranmu

Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri

Patut engkau berikan rumah pada raganya, namun tidak bagi jiwanya

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur ataupun tenggelam ke masa lampau 

Engkaulah busur tempat anakmu, anak panah hidup, melesat pergi...


(Tuhanku, berilah umur panjang kepadaku, supaya kedua sayapku bisa tumbuh bersama menuanya ragaku... Amin. To my beloved kids, take care each other...)

Jumat, 02 Agustus 2013

SIMPLY LUV

Like this a lot. Entah dari mana gambar ini muncul, yang jelas sungguh terharu melihatnya, lebih tersentuh membaca tulisannya. Ya, cinta itu harusnya sederhana. Cinta tetaplah cinta bahkan ketika amarah sedang menguasai. Cinta tetaplah terwujud dalam keinginan untuk memeluk punggungnya, meskipun perang dingin sedang berlangsung. Cinta itu sederhana...

Rabu, 24 Juli 2013

CONSTELLATION




M o n o l o g
(1 Juli 2011)
Aku tak suka monolog ini...
Suara angin yang meniupkan awan, lebih merdu terdengar...
Bahkan kepak sayap kelelawar tak lagi menakutkan...
Maka, aku takkan lagi membiarkan, suara-suara jiwa yang berteriak gaduh merusak keheningan ini...



PINUS ITU TAK PERNAH TAU
(13 Oktober 2011)

Ketika sinar matahari terasa begitu hangat
Langit biru terang
Angin yang begitu lembut bergerak
Menyampaikan berjuta sapaan
Segalanya terasa indai membuai jiwa
Seperti cerita syahdu dari negeri dongeng
Cerita yang tak pernah lama ada
Tersapu badai
Tenggelam bersama kelamnya hati
Pinus itu tak pernah tau
Mengapa langit berubah gelap
Mengapa tak lagi ada embun yang menyentuh ujung daunnya
Mengapa badai yang seketika menjadikan dunianya sunyi
Senyap

cek sound
(14 Juni 2011)
ehhmmmm.....
cek sound.....
disini senang, disana senang
dimana-mana hatiku senang
.................................
^o^
hadap kanan jalan grak, hadap kiri jalan grak
langkah tegap maju jalan....

...cukup
(29 Agustus 2010)
Walau tak ingin membalasnya,
Berilah sedikit ruang bagiku untuk sekedar menyapamu...
Meski hampa dan tersembunyi,
Cukup bagiku untuk memujamu...

081101
(26 Agustus 2010)
Jangan ajari aku tentang kesabaran...
ribuan menit telah kulewati menunggu lelahmu berkelana
jangan ajariku mengubur rahasia hati...
dinding-dindingnya telah lama berkawan setia dengan sepi
tak perlu kau kabarkan tentang arti ikhlas...
bahagiamu selalu menjadi sukaku
serupa dengan kesakitan yang selalu berhasil kunikmati
di setiap inginku bersamamu...

.......
(28 Juli 2010)
Ranting yang berderak dalam sunyi...
Anginpun berhembus tanpa mendapatkan jawab...
Mengapa hati bisa begitu rapuh...

Quiet..
(11 Agustus 2010)
In this quiet night.. U fills my heart with so much love.. U make this freezing heart melting with your warm smile..
Only u can make my whole life like an autumn...


Bintang
(8 Juni 2010)
SELAMAT MALAM BINTANGKU...
KUTITIPKAN SEMUA ASAKU PADAMU
DAN KETIKA ESOK MATAHARI TERBIT...
AKU KAN MENUNGGU MALAM YANG KAN KEMBALI HADIR BERSAMAMU...

00.00
(6 Februari 2011)
Mencoba mengingat cerita yang tersimpan di tiap lembarnya..
Meraba gambar yang mungkin terlukis disitu..
Selalu..
Baru aku sadar kini..
Lembar itu memang hanya halaman-halaman kosong..
Pantas..

seems ....
(24 Januari 2011)
seems like you want me,
but you keep the distance...
feels like you need me,
but you never hold my hand...
feels like you love me,
but you let yourself walk alone...
who am I...???

thank you
(24 November 2010)
aku tak bisa makan kalau aku tak melihatmu...
aku tak bisa bernafas kalau tak di dekatmu...
aku takut mati kelaparan,
aku takut mati sesak nafas,
karena itu aku datang...
aku lakukan semua semua yang aku bisa untukmu,
tapi kamu tak mau dengar...
tak apa...
akan kukatakan lagi sampai kau mendengar
tolong jangan pergi
masih banyak yang ingin kukatakan...
masih banyak yang harus kau dengar...
(dari min gi seoh)



a day in our life
(4 Mei 2010)
BIARKAN WAKTU MENGUSAP KESEDIHANMU
MEMBIARKANNYA MEMUDAR
LAYU SEPERTI SETANGKAI MAWAR YANG SUDAH DIPETIK
(CAMILO JOSE CELA)

maaf
(23 Juni 2011)
maaf...
karena hati tak pernah sanggup lantang berteriak,
tentang rindu yang susul menyusul berlabuh di pantai,
gerimis tadi malam...
tak sanggup menghapus kemarau,
hanya berharap,
waktu tak lagi memusuhi
...............................................