Sebagian besar masa kecilku dihabiskan di kota kecil yang terkenal karena pabrik rokok kreteknya, sehingga disebut sebagai kota kretek, Kudus. Perpindahan kami ke kota ini karena tugas papah di proyek baru, karyawan kontraktor kan memang sering pindah-pindah (karyawan loh ya, bukan kontraktornya ๐). Proyek apa itu, aku sendiri lupa, hanya saja tempatnya dekat dengan rumah kontrakan kami. Desa tempat kami tinggal ada di kecamatan Bae, yang aku ingat adalah dari jalan raya besar, menuju desa kami ada gapura semacam penanda, di sepanjang jalan kanan kirinya dipenuhi kebun tebu. Selain pabrik rokok, memang ada pabrik gula disana. Pabrik rokok yang terdekat dengan kampung kalo ngga salah pabrik rokok Nojorono, entah merek itu masih ada atau sudah hilang saat ini. Oh ya, baru ingat, nama desa tempat tinggal kami adalah Purworejo ๐๐ป๐๐ป.
Untuk menuju kota, kami harus berjalan kaki dari perkampungan melewati kebun-kebun tebu, untuk kemudian menunggu angkutan desa yang lewat. Tapi papah dulu sering memboncengku menggunakan sepeda mini, hanya untuk membeli sate atau beli kolek pisang di kota. Kalau diingat-ingat, jarak rumah dengan jalan besar pasti sangat jauh, tapi dulu sepertinya kami senang saja. Hidup jauh lebih sederhana pada saat itu ☺. Pernah suatu waktu, aku pergi menjemput mamah yang sedang les menjahit ke jalan besar dengan naik sepeda. Di jalanan menurun, tanpa sadar aku menarik rem depan terlalu kencang sehingga sepedapun terjungkal, dan dahiku sukses mencium mur di stang sepeda. Kejadian itu meninggalkan bekas sampai sekarang dan menyebabkan syaraf mataku mengalami gangguan. Kami tinggal di rumah kontrakan, yang hanya terdiri dari dua petak ruangan. Semua aktifitas dilakukan disitu. Kalau mau ke kamar mandi, kami harus keluar rumah dan menggunakan kamar mandi komunal bersama dengan pemilik kontrakan. Mamah terkadang menerima jahitan baju. Masakannya juga sangat enak, sejauh yang kuingat, meskipun dengan uang belanja yang sangat minim. Meskipun kehidupan kami sangat sederhana, tapi entahlah, saat itu rasanya sangat membahagiakan.
Masa TK, memasuki SD, aku merasa sama seperti anak-anak lain. Main pasar-pasaran, membuat minyak kelapa dari daun mangkokan, petak umpet, kadang meminta sisa tebu dari kebun yang selesai panen. Tak jarang main di tepi sungai yang menurutku tempat yang agak creepy karena letaknya berdekatan dengan tempat pemakaman umum. Satu-satunya hiburan, pernah waktu itu diputar layar tancap di lokasi proyek, filmnya sudah pasti film Indonesia. Ada tradisi 'dandangan' (inipun kalau ngga salah sebut), semacam pasar malam setelah lebaran. Ini lebih ramai dibanding lebaran itu sendiri, dan pada momen seperti inilah anak-anak merasa sah saja meminta ini dan itu, mainan masak-masakan, boneka dan yang wajib, harum manis. Ini sungguh langka waktu itu.
Layaknya anak pada umumnya, kadang akupun sering bertengkar dengan teman pada saat bermain. Hal yang paling kubenci pada saat itu adalah ketika kami berselisih, mereka sering mengolok-olok aku dengan kata "cino, cino, wong cino"...
Sungguh aku tak terlalu paham artinya pada saat itu, hanya saja itu terasa seperti sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku hanya mempunyai sedikit gambaran, apa arti olokan mereka, bahwa aku adalah anak orang etnis cina, hal yang langka, bahkan satu-satunya di desa itu. Toh aku tak pernah merasa berbeda dengan anak lainnya, warna kulit, bentuk mata, hampir semuanya sama. Yang aku tahu memang mamah punya warna kulit yang lebih terang dibanding penduduk disana, hanya itu. Karenanya, meskipun tak tahu apa yang menyebabkan, hatiku sering merasa sakit ketika diolok-olok seperti itu.
Memasuki pertengahan SD, papah kembali pindah proyek di Jakarta, sehingga kami sekeluarga pindah ke kota asli papah di Sukabumi. Pada masa itu, aku tak pernah lagi mendengar olokan seperti dulu lagi, sehingga aku nyaris melupakannya. Semakin bertambah umur akupun akhirnya menyadari bahwa ternyata mamah memang keturunan etnis tionghoa, bahkan kakak tertuanya masih ada yang tinggal di RRC, tentu saja kami tak pernah bertemu. Nenek kakek dari pihak mamah sudah meninggal jauh sebelum aku lahir, sedangkan dengan saudara-saudara mamah yang lainpun nyaris tak pernah berhubungan. Mungkin kalau saat ini aku ketemu salah satu sepupu, kami tak mungkin saling kenal. Sayangnya, aku belum terlalu punya cukup kepedulian untuk mengenal lebih jauh silsilah keluarga mamah pada waktu itu, sampai saat mamah meninggal tahun 1992. Aku baru kelas 3 SMP. I miss her a lot.
Saat ini, kegiatan yang rutin aku lakukan adalah yoga. Gurunya fix keren, dan sepertinya latihan disana paling cocok buatku. Tak hanya gurunya, teman-teman latihanpun yang terbaik yang pernah kukenal. And guess what? Saat ini aku lagi-lagi menjadi "minoritas". 95% komunitas yogaku adalah etnis china, termasuk guruku. Kenapa minoritas? Karena aku sendiri (berempat sih) yang berjilbab. Serius, ini bukan tulisan yang berbau SARA, justru aku hanya ingin cerita perbedaan perlakuan yang aku alami. Kalau dulu aku minoritas karena "orang cina", sekarang aku yang minoritas karena "bukan orang cina". Sesungguhnya teman-temanku memang ngga pernah tahu aku juga sebagian cina. Satu hal yang membuat aku tak pernah merasa menjadi minoritas adalah karena perlakuan mereka yang tak pernah membedakan, bahkan sangat baik. Awalnya sempet juga sih ngerasa minder karena beda, tapi tak butuh waktu lama untuk berbaur. Sungguh salah ketika kita masih berpikir segmented, bahkan cenderung rasis. Sepanjang tidak mengganggu aqidah kita, bukankah kita juga diharuskan berbuat baik kepada non muslim?
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).
Ini adalah cerita masa kecilku yang tersimpan hampir selama 40 tahun. Kenapa baru kali ini kutulis, mungkin karena sekarang aku merasa sudah siap membuka kenangan masa kecilku. Sesungguhnya aku cenderung lebih senang tak memikirkan, karena dengan memikirkannya, aku juga harus mengingat banyak kehilangan, terutama keberadaan mamah. Dan ini adalah tulisan yang terinspirasi darinya, memperingati 26 tahun meninggalnya mamah (30 November 1992).
Aku senang, aku adalah aku, minoritas atau bukan.
hasil corat coret midnight season... lebih banyak ditulis sambil terkantuk-kantuk, so.... tulisan yang dihasilkan harus dibaca sambil merem juga, hehehehe...
Sabtu, 01 Desember 2018
Jumat, 29 Juni 2018
Tuhan sungguh Baik
Membiarkanku pernah merasakan berada di ketinggian 3.428 mdpl
Kemudian menghirup semilir aroma belerang, bercampur sejumput wangi edelweis
Kali lain, Tuhan juga membuatku pernah bertahan di dinginnya tenda yang tertiup angin kencang, untuk kemudian menyaksikan kelompok gunung-gunung yang seakan berbaris
Bahkan kemarin, Tuhan memberiku kesempatan melawan ketakutan ketakmampuan bertahan di air, demi melihat keindahannya
Diantaranya, merebahkan diri di bawah hamparan bintang, mencicip sejuk air yang mengalir jernih, mengunyah pucuk pakis bercampur mungkin sedikit pasir, menyusuri jalan mendaki di tengah hujan...
Sungguh rindu yang mencekam Tuhan..
Rindu dialog bersama alam-Mu, dan mulai bosan hanya bercengkrama dengan layar mati
Namun bersama kebosanan itupun, hujan hari ini sungguh romantis
Tuhanku sungguh baik, betul kan?
Selasa, 26 Juni 2018
Intisari KOPI
Menyeduh kopi itu harus dengan hati, karena pertemuan mesra air dan kopi... walau tanpa kata... selalu jujur menghadirkan percik-percik kebahagiaan di setiap teguknya...
Pada pagi, memberi semangat menyambut semesta yang bersinar...
Pada siang, mengistirahatkan sejenak dari penat...
Pada malam, menghantarkan meredam seluruh riuh di kepala. Ngopi itu harus sering, seperti patah hati yang berkali-kali, supaya makin terasa serunya hidup di semesta ini....
Selasa, 26 April 2016
PROUD OF
Hari kerja
terakhir minggu lalu, jadi hari paling seru yang pernah gue alami. Harus mengumumkan
dua puluhan paket lelang salah satu dinas secara bersamaan nyaris membuat keadaan
kantor menjadi chaos. Semua orang sibuk melakukan persiapan, membuat dokumen,
cek ulang persyaratan dan perintilan lainnya. Teriakan dari satu kubikel ke
kubikel lainnya saling mengkonfirmasi data, saling membantu, mem-back up,
ataupun saling mengoreksi pekerjaan kami masing-masing. Adrenalin terasa
memenuhi ruangan kerja kami hari itu, berlomba dengan waktu. Gosh... gue suka
suasana waktu itu, hal yang belum pernah gue dapet sebelumnya.
Hari sebelumnya
gue ngobrol sama mantan bos, sedikit bernostalgia tentang kantor kami dulu. Sebagai
alumni, kami masih merasa terikat secara emosional, karena itu adalah tempat
kami pertama bertumbuh (hahaha)... Dulu ada satu proses yang tidak kami
lakukan, semacam missing link dari serangkaian prosedur yang seharusnya kami
lakukan, dan itu membuat kami sedikit “hilang arah”.
Disini,
saat ini... ini salah satu tempat terbaik buat belajar, gue suka suasananya,
ritme kerjanya, orang-orangnya (yang sedikit insane... ups). Yes, we are not
perfect, but we’re try to be, and I’m proud of being one of its.
Kamis, 18 Februari 2016
KEPO
Kemarin,
mendapat curhatan hati seorang sahabat tentang suaminya, well… itu memang
urusan rumah tanga mereka, tapi mungkin karena kedekatan kami, dia mau curcol,
dia ternyata tipe yang suka intip-intip hape suaminya, it’s a little bit embarrassing, karena karena ternyata istilah kepo bahkan
kemal, sebagian temen gue ternyata mengalami hal sama, entah sebagai
pelaku, entah sebagai korban, hehe… Ngintip hape pasangan masing-masing yang
kadang berujung pada pertengkaran karena kesalahpahaman masing-masing. Yang terlihat
bisa jadi ngga seperti yang dibayangkan, tapi disitu hebatnya hati manusia,
bisa langsung berprasangka buruk dengan cuma baca satu atau dua baris tulisan.
Nah ceritanya
si temen gue baru aja ngintip hape suaminya, dia liat percakapan antara suami
dan temen kantornya. Ngga ada percakapan yang menjurus apapun, tapi diujung
percakapan si suami kirim emoticon peluk kaya gini ({}) … Entah emang maksudnya
meluk atau emang suaminya yang kurang pintar membaca emoticon J yang jelas si istri merasa
jadi ngga mood ngadepin suaminya, mau dikonfrontir tapi malu, mau didiemin juga
bikin hatinya rusuh. Aduh ini sebenernya over posesif atau emang udah ngga
rasional sih temen gue? Sssssttt, tapi ya gue ngga bilang gitu juga sama temen
gue itu, bisa-bisa gue dimusuhin, hehehe… Tapi ya emang agak keterlaluan juga
sih yaa, masa gara-gara hal sepele kaya gitu jadi masalah. Tapi kalo tentang
pasangan emang agak susah dirasionalisasi sepertinya. Temen gue malah ada yang
hapenya tiap malem diaudit sama istrinya, what
the …..??? sementar temen yang lain juga ada yang sibuk end chat setiap mau pulang ke rumah…hmmmm
gini juga ngga ya kelakuan pasangan gue?
Jadi inget
tentang tulisan gue jaman dulu waktu gue sempet nolak pake aplikasi “AA” dan
sempet sebel kalo ditanya, punya pin “AA” ngga? Baca : http://shetamara.blogspot.co.id/2011/09/mass-consumption-no-way.html
Meskipun
toh pada akhirnya gue harus menyerah untuk pasang aplikasi itu juga, karena
tuntutan kebutuhan, ngga semua orang pake aplikasi yang gue pake. Buat situasi
sekarang, dimana orang lebih histeris ngga punya kuota, abis batere atau ngga
ada sinyal, ngga pake aplikasi kaya gitu jadi terlihat lebih menguntungkan,
daripada jadinya mengganggu stabilitas ‘en-ka-er-I’ dan mesti deg-degan setiap
mau pulang pulang, karena mikiran udah dihapusin belum yaa, obrolan di privat chat, atau di grup? Meskipun
kadang emang ngga ada apa-apa, tapi tetep aja daripada ribut mending
rajin-rajin end chat… Fiuuuhhhhhh…. Ribeeett.
Katanya kunci menjaga hubungan adalah saling percaya, selalu berprasangka baik
sama pasangan. Kalo ngga gitu, bisa mati kurus kita, mikirin hal yang belum
tentu kejadian, jangan suka kepo ngintipin hape pasangan deh… (nasehat buat
temen gue, sekaligus buat diri sendiri).
Selasa, 05 Januari 2016
Selamat Tahun Baru !!!
Selamat
siaaang semuaaaa………..
Sepertinya
dua tahun mungkin lebih gue ngga pernah nulis. Alasannya klasik, ngurus
anaklah, banyak kerjaanlah deeste deeste… Punya anak dua tahunan itu emang
sesuatu banget, mau pergi bentar kepikiran, mau buka laptop, direcokin juga. Giliran
dianya dah bobo, guenya juga ngantuuuuk :’(
Tapi beneran
nih, sekarang berasa udah tuaaa banget. Begitu ngaca di tempat yang terang,
keliatan ada uban nyempil, lebih dari satu…. Omaigat omaigat…. #mukapanik Selama ini temen-temen gue udah dari lama
beruban, meskipun umurnya lebih muda, sementara gue cuma ada selembar. Tapi sekarang
banyak benget nih uban. Belum lama gue juga pernah sakit kaki, tangan di
sendi-sendinya, ngga bisa digerakin, parah abis sakitnya. Banyak yang bilang
kena asam urat, percaya aja sih gejalanya emang gitu. Sampai ngga bisa ngantor
beberapa hari, sediiih banget. Tapi ternyata waktu periksa ke dokter spesialis
tulang, dari hasil labnya, asam urat, kolestrol masih normal, cuma radang sendi
aja katanya. Ya apapun lah yaa, tetep aja jadi syok.
Oya,
dua tahun ini, banyak hal yang baru yang belum sempet ditulis. Gue dah dua kali
pindah kantor, whats??!!!! Gue pikir sekali jadi auditor, apalagi udah punya
sertifikat bakal selamalamalamanya diem disitu, ternyata akibat gue nikah ke sesama penghuni gedung juga, terpaksa harus
move on hahaha… Kantor kedua gue hhhmmmm…. Lumayan bikin stres, apalagi gue
pindah pas lagi hamil 3 bulanan. Tapi di kantor baru itu juga gue banyak
belajar, sebagian karena gue dianggap sedikit ‘lebih tau’ karena dulunya
auditor. Sebagian karena banyak kesempatan dan kepercayaan yang dikasih ke gue
sama bu bos. Temen-temen yang sebagian sangat suportif, abaikan orang-orang
yang ngga termasuk dalam daftar favorit kita di phone book hehehe… Disana gue bisa lebih berkembang, mencoba hal
baru, ketemu banyak orang baru, punya keberanian baru. Gue bersyukur, di kantor
yang dulu ketemu senior-senior yang kegalakan, disiplinnya ada di level 8, hiks…
Ternyata hasil didikan mereka jadi modal utama gue di kantor baru (makasih ibu
yang sering bikin mules, bapak yang agak nyiyir hehe…).
Dua tahun
lebih disana, gue udah pindah lagi ke kantor baru, kali ini pake acara
drama-dramaan gitu. Rasanya agak berat ninggalin orang-orang yang gue tau
memang kerja, yang selama ini sangat mendukung. Tapi gue pikir perubahan itu
perlu, gue pengen nyoba hal baru lagi. Di kantor baru ini, pasti gue jadi anak
bawang lagi, ngga terlalu dikasih banyak tanggungjawab. Seru disini, ngga ada
birokrasi sesama anggota, dan kayanya syarat bisa ngerasa nyaman disini cuma satu,
agak geser dikit otaknya huahaahahahah……………
Hal baru
yang lain yaitu gue mulai belajar yoga setahun kebelakang. Ini berhubungan sama
perubahan yang lain, yaitu perubahan bentuk badan yang melar dan menolak
mengecil lagi hwuaaaaa… Dulu masih sanggup ikut aerobik-aerobikan atau fitness,
tapi kayanya sekarang udah ngga sanggup lagi, jadi cari alternatif lain. Ketemu
sama si yoga ini. Ternyata yoga itu ya butuh latihan ekstra keras juga kalau
pengen progressnya bagus. Tapi lagi-lagi alasan punya krucil yang dijadiin
alasan. Gimana ngga, orang baru mulai plank, latihan di rumah kaya yang lain,
yang ada si krucil malah duduk manis diatasnya hahaha, harusnya sih bikin
tambah kuat yaa. Di tempat yoga ini, ternyata ketemu sama temen-temen dari
berbagai suku, ras dan agama. Tapi mereka semua keren banget, baik-baik ngga pernah
memisahkan diri satu sama lain. Ketemu great
teacher (meskipun awalnya ragu, cos beliaunya guru cowo)… This is the new experience.
Dan terakhir,
tahun baruan di rumah sakit ternyata menghasilkan resolusi yang cukup keren
buat gue : jangan berobat ke RS** kalo ngga kepepeeeettt banget. Ngga tau
kenapa, beberapa kali rawat inap di rumah sakit itu, hilang satu penyakit, dateng
penyakit lain, darah tinggi :D . Sebagai peenes yang setiap bulan gajinya
dipotong buat askes, perlakuan dokter & perawat disana sama di rumah sakit
Her*ina (katanya ngga boleh sebut merk), ibarat jarak Sukabumi – Bandung pas
macet total. Padahal yang dipake bayar ya asuransi yang sama. Jadi RS** itu
pilihan ke 105, pilihan pertama tetep sehat sentosa buat kita semua !!!
So this
is it. Ini semacam pemanasan buat (mudah-mudahan) cerita selanjutnya.
Selamat
siang menjelang soree…..
Kamis, 12 Maret 2015
(Bingung)
Aku rindu
Rindu akan kehilangan yang dulu pernah ada
Rindu karena pilihan
Rindu mahligai tempatku terjaga
Rindu zirah emasku
Rindu karena belantara beronak
Tetapi bukankan aku hanya wayang
Bergerak hanya sesuai tangan si dalang
Tapi aku ini wayang golek
Dan bukan wayang kulit
Wayang yang mampu melihat
Mencium dan merasakan
Mendengar
Seluruh dimensi
Seringkali terjatuh, tersandung, tergores
Bahkan duripun sanggup melukai
Belenggu dari si dalang menghalangiku
Berontak, membalas bahkan sekedar berteriak
Aku benci
Titik...
Senin, 07 Juli 2014
Jumat, 28 Maret 2014
KISAH SATU
Membaca sebuah kisah di tabloid
mengenai seorang bayi bernama Aqila yang menderita Atresia Bilier, membuka kembali ingatan tentang anak keduaku. Atresia Bilier adalah penyumbatan
saluran empedu. Lahir melalui proses yang yang menurutku tidak mudah, karena
sesungguhnya aku tidak menyiapkan diri untuk melakukan operasi caesar. Pada
saat kontrol kehamilan dokter mengatakan posisi bayiku normal, sudah berada di
posisi yang semestinya, bahkan tiga hari sebelum hari lahir. Memasuki minggu
ke- 42 belum ada tanda-tanda aku akan segera melahirkan, lewat satu minggu dari
perkiraan dokter. Waktu itu jumat sore aku dan suami kontrol untuk ke sekian
kali, dan dipastikan posisi bayiku kembali bergeser, melintang dengan kaki dan
ari-ari berada di jalan lahir. Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan
operasi caesar sesegera mungkin
karena telah lewat waktu perkiraan. Dengan membawa rujukan kepada seorang
dokter senior di rumah sakit daerah (maklum PNS). Mendaftar pada sabtu pagi
(dengan waktu tunggu yang lumayan lama, dan harus mondar-mandir dari satu loket
ke loket lain, tipikal RSD L
hikshiks...), akhirnya aku disiapkan untuk masuk ruang operasi jam 4 sore. Ternyata
tidak memakan waktu lama untuk melakukan sebuah operasi mengeluarkan seorang
bayi kecil dengan berat 2,8 kg dan panjang 52 cm J. Pemulihan dari anestesi
justru yang membutuhkan lebih dari 3 jam, dengan perasaan melayang,
hahahaha....
Pada minggu-minggu pertama, bayi
kecilku tumbuh sehat dengan pertambahan berat badan yang lumayan pesat. Hanya
satu hal yang mengganjal, tubuhnya berwarna kuning, termasuk kornea matanya.
Menurut orang-orang, ini karena kurang asupan ASI dan dijemur. Semua nasehat
kuikuti, tapi keadaan tidak berubah. Hal ini terus berlangsung sampai bayiku
berumur satu bulan lebih. Diluar tubuhnya yang berwarna kuning, semuanya
terlihat normal. BAB nya normal, berwarna kuning, berat badannya naik
proporsional, menyusu dengan teratur. Aniway,
karena kekuatiran kami, akhirnya kami membawanya untuk diperiksa. Dokter waktu
itu belum bisa menentukan diagnosa yang pasti, sambil diberikan obat, kami
diharuskan kontrol kembali sambil melakukan beberapa tes di laboratorium. Bayi
sekecil itu harus ditusuk jarum untuk diambil darah Ltermasuk berpuasa semalaman
karena harus rontgen hati.
(ini daftar tes yang harus dijalani my little baby)

(perjalanan jauh pertama dede)
Meskipun hasil tes laboratorium
telah keluar, tapi dokter belum bisa mengambil kesimpulan. Ada beberapa
kemungkinan, yang terberat adalah penyumbatan saluran empedu dan tindakan yang
harus dilakukan adalah operasi. Astagfirullah haladzim... tidak terkatakan
perasaan ini, ingin menamgis, tapi aku tahu aku harus kuat, demi bayiku, karena
aku ngga mau karena perasaanku yang kacau berpengaruh ke produksi ASI-ku.
Kamipun dirujuk ke Bandung, sebuah rumah sakit swasta internasional, menemui
dokter yang ahli di bidang penyakit ‘hepar’.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, kami memutuskan langsung ke Bandung,
membawa seluruh tabungan kami sebagai bekal. Sebelumnya kami telah melakukan
konfirmasi kepada pihak rumah sakit mengenai apakah dokter yang kami tuju ada. sampai
di rumah sakit, mendaftar (gak pake lama), kami menunggu jam buka praktek.
Tetapi beberapa menit sebelum waktu praktek, perawat memberi tahu bahwa
ternyata dokter berhalangan, karena ada acara mendadak. Kamipun protes, karena
kami sudah membuat perjanjian sebelumnya, mengingat kami dari luar kota.
Perawat jaga berkali-kali minta maaf dan menekankan bahwa itu memang mendadak,
karena sampai waktu terakhir, dokter masih menyatakan akan praktek (fiiuhhhhh,
beda banget sama pelayanan di rumah sakit negeri). Kami sempat linglung,
menentukan langkah apa yang mesti diambil, pulang lagi ke Sukabumi, atau nginep
di Bandung, karena besok dokternya ada jadwal praktek di rumah sakit itu,
meskipun perawat juga tidak bisa memastikan kehadiran dokter. Setelah
menimbang-nimbang, akhirnya kamipun memutuskan bermalam di Bandung di rumah
salah satu keluarga. Keesokan hari, sampai jam sembilan pagi, kami belum
menerima kabar dari pihak rumah sakit. Akhirnya karena penasaran, aku googling tentang dokter ini. Ternyata Dr
Ina Rosalina, SpA (K) adalah seorang Konsulen Spesialis Anak Sub Spesialis
Gastro di beberapa rumah sakit di Bandung, dokter ahli di bidang saluran
pencernaan anak (gastroenterologi)
terkenal di Indonesia. Wah aku pikir perjuangan mencari dokter ini akan sulit,
meskipun dokter ini praktek di beberapa rumah sakit di Bandung. Akhirnya kabar
dari rumah sakit mengkonfirmasi bahwa dokter Ina tidak akan praktek karena akan
ada seminar di Jakarta. Kamipun kelimpungan. Aku cari dimana lagi dokter Ina
praktek hari sabtu itu, ketemu di satu rumah sakit swasta lagi. Setelah
menunggu beberapa kali menunggu extension,
akhirnya dapat informasi kalau beliau ada praktek. Karena kurang yakin, aku
sampai beberapa kali nanya, “Bener nih mba, dokternya ada?”. “Iya bu, ini juga
lagi ada di ruangan.” Okay kami bergegas berkemas menuju te-ka-pe, suamiku
malah gak pake mandi lagi, maklum Bandung akhir minggu pasti macet. Finnally, menunggu di depan praktek dr.
Ina, lega level pertama.
Melihat hasil tes darah dan rontgen hati dari rumah sakit di
Sukabumi, dr. Ina sebetulnya bisa mengambil kesimpulan, kalau anakku ngga papa,
cuma karena ASI aja katanya, tapi solusinyapun tetep dikasih ASI
sebanyak-banyaknya. Fiiiuuuuhhhhh..... Buat menyakin, harus dilakukan tes darah
sekali lagi L...
Karena hari itu sudah siang, makanya ngga mungkin hasilnya bisa langsung
diperiksa dikter, apalagi beliau mesti ke Jakarta menghadiri seminar. Akhirnya
kami dianjurkan menelpon dokter hari selasa malam, karena dia tau kami dari
luar kota, untuk mengetahui hasil pemeriksaan (she gave us a name card !!!!). Aku sampe melongo, gak papa nih
dokter? Honestly, baru kali ini, gue
ketemu dokter kaya gini, cantik, pinter, terkenal, ramah, baiiiiikkkkk.......
banget, mau dihubungi lewat telpon. Padahal ongkos periksannya aja murah,
hehehe...resep yang dikasih juga cuma vitamin. Lega level kedua.Setelah ambil
darah di lab, kami langsung pulang ke Sukabumi.
Selasa malam, dengan perasaan galau
aku menghubungi dokter. Dokternya santai aja, “Ngga papa kok bu, kasih aja ASI
sebanyak-banyaknya, nanti juga kuningnya ilang, bulan depan cek lagi kesini”.
Ceeesssss....seperti disiram air dingin, kami semua merasa lega dengan
hasilnya. Lega level tiga.
Ternyata memang hari-hari
berikutnya, kuning pada tubuh anakku terlihat berkurang, matanyapun mulai
jernih. Pada saat kami check up lagi,
anakku sudah terlihat seperti bayi sehat lainnya dan dokterpun bilang semuanya
baik-baik saja. Alhamdulillah hirobbil alamiin.... Lega level sepuluh J
Selasa, 25 Februari 2014
satu pengingat dari sang KAHLIL GIBRAN
Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra putri sang hidup, yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau tetapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu
Berilah mereka kasih sayang, namun jangan beri pemikiranmu
Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri
Patut engkau berikan rumah pada raganya, namun tidak bagi jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur ataupun tenggelam ke masa lampau
Engkaulah busur tempat anakmu, anak panah hidup, melesat pergi...
(Tuhanku, berilah umur panjang kepadaku, supaya kedua sayapku bisa tumbuh bersama menuanya ragaku... Amin. To my beloved kids, take care each other...)
Jumat, 02 Agustus 2013
SIMPLY LUV
Like this a lot. Entah dari mana gambar ini muncul, yang jelas sungguh terharu melihatnya, lebih tersentuh membaca tulisannya. Ya, cinta itu harusnya sederhana. Cinta tetaplah cinta bahkan ketika amarah sedang menguasai. Cinta tetaplah terwujud dalam keinginan untuk memeluk punggungnya, meskipun perang dingin sedang berlangsung. Cinta itu sederhana...
Rabu, 24 Juli 2013
CONSTELLATION
M o n o l o g
(1 Juli 2011)
Aku tak suka monolog ini...
Suara angin yang meniupkan awan, lebih merdu terdengar...
Bahkan kepak sayap kelelawar tak lagi menakutkan...
Maka, aku takkan lagi membiarkan, suara-suara jiwa yang berteriak gaduh merusak keheningan ini...
Suara angin yang meniupkan awan, lebih merdu terdengar...
Bahkan kepak sayap kelelawar tak lagi menakutkan...
Maka, aku takkan lagi membiarkan, suara-suara jiwa yang berteriak gaduh merusak keheningan ini...
PINUS ITU TAK PERNAH
TAU
(13 Oktober 2011)
Ketika sinar matahari terasa begitu
hangat
Langit biru terang
Angin yang begitu lembut bergerak
Menyampaikan berjuta sapaan
Segalanya terasa indai membuai jiwa
Seperti cerita syahdu dari negeri dongeng
Cerita yang tak pernah lama ada
Tersapu badai
Tenggelam bersama kelamnya hati
Pinus itu tak pernah tau
Mengapa langit berubah gelap
Mengapa tak lagi ada embun yang menyentuh ujung daunnya
Mengapa badai yang seketika menjadikan dunianya sunyi
Senyap
Langit biru terang
Angin yang begitu lembut bergerak
Menyampaikan berjuta sapaan
Segalanya terasa indai membuai jiwa
Seperti cerita syahdu dari negeri dongeng
Cerita yang tak pernah lama ada
Tersapu badai
Tenggelam bersama kelamnya hati
Pinus itu tak pernah tau
Mengapa langit berubah gelap
Mengapa tak lagi ada embun yang menyentuh ujung daunnya
Mengapa badai yang seketika menjadikan dunianya sunyi
Senyap
cek sound
(14 Juni 2011)
ehhmmmm.....
cek sound.....
disini senang, disana senang
dimana-mana hatiku senang
.................................
^o^
hadap kanan jalan grak, hadap kiri
jalan grak
langkah tegap maju jalan....
...cukup
(29 Agustus 2010)
Walau tak ingin membalasnya,
Berilah sedikit ruang bagiku untuk
sekedar menyapamu...
Meski hampa dan tersembunyi,
Cukup bagiku untuk memujamu...
081101
(26 Agustus 2010)
Jangan ajari aku tentang kesabaran...
ribuan menit telah kulewati menunggu
lelahmu berkelana
jangan ajariku mengubur rahasia hati...
dinding-dindingnya telah lama berkawan
setia dengan sepi
tak perlu kau kabarkan tentang arti
ikhlas...
bahagiamu selalu menjadi sukaku
serupa dengan kesakitan yang selalu
berhasil kunikmati
di setiap inginku bersamamu...
.......
(28 Juli 2010)
Ranting yang berderak dalam sunyi...
Anginpun berhembus tanpa mendapatkan jawab...
Mengapa hati bisa begitu rapuh...
Anginpun berhembus tanpa mendapatkan jawab...
Mengapa hati bisa begitu rapuh...
Quiet..
(11 Agustus 2010)
In this quiet night.. U fills my heart
with so much love.. U make this freezing heart melting with your warm smile..
Only u can make my whole life like an autumn...
Only u can make my whole life like an autumn...
Bintang
(8 Juni 2010)
SELAMAT MALAM BINTANGKU...
KUTITIPKAN SEMUA ASAKU PADAMU
DAN KETIKA ESOK MATAHARI TERBIT...
AKU KAN MENUNGGU MALAM YANG KAN KEMBALI HADIR BERSAMAMU...
KUTITIPKAN SEMUA ASAKU PADAMU
DAN KETIKA ESOK MATAHARI TERBIT...
AKU KAN MENUNGGU MALAM YANG KAN KEMBALI HADIR BERSAMAMU...
00.00
(6 Februari 2011)
Mencoba mengingat cerita yang tersimpan
di tiap lembarnya..
Meraba gambar yang mungkin terlukis disitu..
Selalu..
Baru aku sadar kini..
Lembar itu memang hanya halaman-halaman kosong..
Pantas..
Meraba gambar yang mungkin terlukis disitu..
Selalu..
Baru aku sadar kini..
Lembar itu memang hanya halaman-halaman kosong..
Pantas..
seems ....
(24 Januari 2011)
seems like you want me,
but you keep the distance...
feels like you need me,
but you never hold my hand...
feels like you love me,
but you let yourself walk alone...
who am I...???
but you keep the distance...
feels like you need me,
but you never hold my hand...
feels like you love me,
but you let yourself walk alone...
who am I...???
thank you
(24 November 2010)
aku tak bisa makan kalau aku tak
melihatmu...
aku tak bisa bernafas kalau tak di
dekatmu...
aku takut mati kelaparan,
aku takut mati sesak nafas,
karena itu aku datang...
aku lakukan semua semua yang aku bisa
untukmu,
tapi kamu tak mau dengar...
tak apa...
akan kukatakan lagi sampai kau
mendengar
tolong jangan pergi
masih banyak yang ingin kukatakan...
masih banyak yang harus kau dengar...
(dari min gi seoh)
a day in our life
(4 Mei 2010)
BIARKAN WAKTU MENGUSAP KESEDIHANMU
MEMBIARKANNYA MEMUDAR
LAYU SEPERTI SETANGKAI MAWAR YANG SUDAH DIPETIK
(CAMILO JOSE CELA)
MEMBIARKANNYA MEMUDAR
LAYU SEPERTI SETANGKAI MAWAR YANG SUDAH DIPETIK
(CAMILO JOSE CELA)
maaf
(23 Juni 2011)
maaf...
karena hati tak pernah sanggup lantang berteriak,
tentang rindu yang susul menyusul berlabuh di pantai,
gerimis tadi malam...
tak sanggup menghapus kemarau,
hanya berharap,
waktu tak lagi memusuhi
...............................................
Langganan:
Postingan (Atom)










